Perjalanan ke Eropa Membuat Mimpi Saya Lebih Tinggi

Penulis : Yoyoo, 19 Oktober 2017

MunchenGladbach, Germany

Jika ingin menjadi yang terbaik, harus belajar dari yang terbaik. Kalimat yang saya rasa sangat pas dengan saya karena saya selalu ingin jadi yang terbaik. Bagi para pelatih tidak sedikit tentunya yang mempunyai perasaan sama dengan saya, dan jika kita bicara yang terbaik pasti kiblat nya adalah sepakbola Eropa. Impian semua pelatih sepertinya untuk bisa datang dan belajar langsung di Negara yang sepakbolanya jauh lebih baik. Dan pada kesempatan kali ini betapa bahagianya saya akhirnya dapat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Eropa untuk belajar sepakbola dari yang terbaik setelah cukup sulit mengurus Visa untuk keberangkatan, maklum ini pertama kali saya mengurus visa ke Eropa.

Negara pertama yang saya kunjungi adalah Negara sepakbola favorit ayah saya sejak kecil, yaitu Germany, Woww.. Siapa yang tidak tahu Gemany, negara yang 4 kali meraih gelar juara Piala Dunia. Selain tujuan utama kedatangan ke Eropa adalah untuk technical visit academy dan tim utama Bundesliga Borusia MunchenGladbach dan tim Eredivisi VVV Venlo, saya sengaja datang lebih cepat 3 hari sebelumnya untuk menyaksikan beberapa pertandingan International terlebih dahulu.

Hari pertama tiba saya langsung menuju KaiserLautern dibagian barat daya Germany tepatnya di Fritz Walter Stadion untuk menyaksikan pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Germany melawan Azerbaijan, memasuki area stadion saya tidak merasakan hal yang berbeda dengan apa yang ada di Indonesia dimana pemandangan para fans kedua Negara yang menunggu untuk menyaksikan pertandingan, setelah cukup lama menunggu antrian untuk menukar tiket masuk yang sudah saya pesan lewat online sebelum keberangkatan, saya cukup terkejut setelah masuk kedalam stadion karena banyak bar dan cafetaria, hal yang tidak pernah saya lihat sebelumnya di stadion manapun di Indonesia, akhirnya saya pun bisa langsung menyaksikan pertandingan antara Germany melawan Azerbaijan, ahh enaknya menyaksikan sepakbola seperti berada didalam gedung bioskop dimana saya bisa membeli pizza, minuman dan makanan lainnya untuk dimakan sambil menyaksikan pertandingan.

Setelah selesai pertandingan, esok paginya saya meneruskan perjalanan, tujuan selanjutnya adalah Holland. Nikmatnya perjalanan ke Eropa adalah dimana kita bisa menggunakan kereta cepat untuk untuk Negara yang ada di Eropa. Tiba di Holland saya langsung bergegas menuju stadion paling bersejarah yaitu Amsterdam Arena, markas Ajax Amsterdam untuk menyaksikan pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Holland melawan Sweden, sama seperti di Fritz Walter Stadion markas tim berjuluk De Amsterdammers yang didirikan pada tahun 1900 ini sangat megah, dikelilingi mall, shoping center dan beberapa cafe yang berjarak hanya kira-kira 100 meter dari stadion. Selain stadion yang begitu megah dengan desain yang sangat luar biasa, saya sangat terkejut ketika pertandingan berlangsung supporter Sweden dan Holland berada di sebelah sisi kanan dan kiri saya tanpa ada tempat khusus yang disiapkan untuk masing-masing supporter, mereka saling mendukung Negara masing-masing dan sesekali mereka memaki wasit dan pemain lawan, tapi hal tersebut sama sekali tidak membuat suasana menjadi ricuh apalagi berkelahi sekalipun pada akhirnya Belanda tersingkir tidak lolos ke Piala Dunia . Ah.. lagi-lagi Tuhan memberikan saya kenikmatan yang belum pernah saya alami ketika menyaksikan pertandingan di Indonesia.

Sepakbola adalah segalanya disini, seperti ibadah wajib mingguan yang tidak boleh terlewati setiap pekannya. Dua pertandingan International yang saya saksikan akhirnya terwujud sekaligus mewakili ayah saya untuk langsung menonton tim kebanggaannya, Germany. Hari ke 4 saya langsung menuju tujuan utama yaitu belajar dari yang terbaik, selama 6 hari saya mengunjungi tim akademi dan tim utama Borusia MunchenGladbach dan VVV Venlo, saya tidak dapat bercerita bagaimana pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari kedua tim tersebut selama 6 hari, saya khawatir anda sekalian mengantuk membacanya.

Pada awalnya ke Eropa hanya mimpi buat saya pribadi, karena sebelumnya saya sempat bicara dengan rekan saya bahwa suatu saat saya wajib belajar dan mengunjungi Eropa, siapa tahu setelah kesana dan kemudian saya bisa melatih di Eropa, spontan rekan saya menjawab ” Sudahlah bro, mimpi nya jangan kejauhan”.┬áSetelah berada di Eropa, belajar langsung dan mengunjungi Negara yang sepakbola sangat jauh lebih baik, saya semakin percaya bahwa semua berawal dari mimpi.

Dan tentunya perjalanan ke Eropa membuat mimpi saya lebih tinggi, yaitu bermimpi di suatu saat untuk bisa melatih di Eropa dan tentunya mimpi yang tidak boleh tertinggal adalah membawa Garuda terbang lebih tinggi untuk berpartisipasi di Piala Dunia. Eropa pula membuat saya berjanji untuk kembali lagi belajar di Negara yang berbeda.

 

SELESAI …