Haruskah “saya” yang bertanggung jawab?

Kota Istimewa, 23 Oktober 2019

Menyelesaikan dan mengakhiri musim kompetisi liga 2 tahun 2019 di tim yang termasuk salah satu kota favorit saya sejak SMP yaitu Yogyakarta (PSIM Yogyakarta), tidak akan mudah saya lupakan dalam karir kepelatihan saya, banyak hal yang cukup menantang dan menyedihkan, mengapa saya katakan demikian, salah satunya adalah karena diluar dugaan bahwa seorang assisten pelatih dalam  satu tim menjadi sasaran target suporter karena tim kesayangannya kalah, saya sedang tidak menyalahkan juga tidak mengatakan bahwa saya benar, tidak penting bagi saya #YoyoOut atau apalah hastag dan nyanyian makinya, malah parahnya lagi ada sebagian fans datang ke mess meneriakkan nama saya untuk keluar dari mess tepat 1 jam setelah kekalahan melawan Sulut United di kandang dan meminta pertanggung jawaban saya sebagai assisten pelatih.

Ko bisa? Agak aneh memang, anda sekalian (bukan fans PSIM) mungkin juga akan menanyakan alasan mengapa harus saya yang bertanggung jawab, tapi memang faktanya demikian. Kembali lagi bahwa siapapun boleh menilai dan mengomentari.

Bukan untuk mendambakan pembenaran, akan tetapi rasanya pantas apabila saya ingin meluruskan agar kita semua semakin dewasa dan bijak menilai dan menyikapi sesuatu yang terjadi disekitar kita, bahwa kedatangan saya ke tim yang saya latih adalah berusaha semaksimal mungkin bekerja secara profesional dengan semaksimal mungkin untuk membantu pelatih kepala dan tim tentunya untuk memenangkan pertandingan setiap pekannya, tidak ada sedikitpun terbesit rasa benci kepada beberapa pemain atau hal negatif lainnya dalam hati saya lalu menyampaikannya kepada pelatih kepala bahwa pemain A dan B kurang bagus karena saya tidak menyukainya.

Anda sekalian boleh menanyakan bagaimana kinerja saya kepada 3 pelatih yang saya layani dalam 1 musim dan menanyakan ke seluruh pemain apa yang saya lakukan untuk menyiapkan setiap pertandingan dan merekam setiap sesi latihannya untuk bisa memberitahu mereka dimana letak kesalahan individu maupun secara tim.

Cara kerja yang saya lakukan dalam tim memang masih menjadi hal yang aneh di republik ini, bahkan di minggu pertama saya bekerja ada salah satu pemain yang mengatakan untuk apa saya lakukan itu (merekam latihan tim), apakah saya bekerja untuk salah satu televisi dan ada beberapa lagi negatif komen dari pemain yang pada akhirnya mengakui darisitulah mereka tau apa kekurangan mereka dalam latihan dan pertandingan dan apa yang harus mereka perbuat.

Memang tidak menjamin bahwa tim akan menang dan sukses, akan tetapi bagi saya pribadi itu adalah proses untuk sepakbola kita lebih baik kedepannya, saya sangat percaya bahwa hasil yang baik akan menghampiri sepakbola Indonesia dimasa yang akan datang apabila semua pemain, pelatih lebih berpikir sepakbola, bukan yang lain (wasit, match fixing) dan hal negatif lainnya, karena jelas itu bukan kapasitas kita (pemain dan pelatih) untuk merubahnya, kita tertinggal dari taktik permainan sepakbola itu sendiri selama ini karena disibukkan memikirkan hal yang kita sendiri tidak bisa merubahnya..

Saya tidak akan merubah dan mengurangi sedikitpun cara kerja saya di manapun saya bekerja, karena saya masih sangat yakin bahwa harapan untuk sepakbola kita terbang di level yang lebih tinggi masih sangat besar, itu semua tentu diperlukan proses yang panjang dan ketekunan yang kuat. Karena tim yang hebat tidak bisa dibangun dalam waktu 1 malam.

Meskipun pada akhirnya kita semua sama-sama tahu dan menyadari, bahwa dalam sepakbola top level hasil akhirlah yang ditunggu, hasil akhir yang dapat menghilangkan dan melupakan masalah sebesar apapun yang ada dan begitupun sebaliknya.

Saya tidak sedang mengeluh apalagi membela diri, dalam pekerjaan sebagai pelatih sangat wajar dengan tekanan dan cacian apalagi ketika tim mengalam kekalahan, akan tetapi mungkin saya akan lebih legowo dan menerima cacian maki itu apabila saya lah orang yang paling bertanggung jawab dalam tim (Pelatih Kepala), karena saran dan masukan apapun yang assisten berikan kepada pelatih kepala sudah pasti pada akhirnya pelatih kepala juga lah pengambil keputusan.

Boleh saja orang menilai saya sebagai seorang yang tidak gentle, perusak dan penyebab kegagalan tim. Tetapi satu hal yang pasti, saya tidak pernah mengkhianati hati, dan profesi saya. Sebuah profesi yang sangat saya cintai dan banggakan, sebagai pelatih sepak bola.

“Akhir sekali, lewat tulisan ini saya pribadi mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya dan rasa hormat setinggi-tingginya kepada Fans PSIM, sukses selalu menyertai kalian untuk Brajamusti, Mataram Independent dan basis-basis fans PSIM lainnya, kalianlah satu-satunya harga diri yang masih dimiliki sepakbola Jogjakarta dan patut disegani oleh siapapun, suatu hal yg sangat mengesankan dalam karir saya bisa melihat kegilaan kalian terhadap club ini”.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang menghampiri kita demi nama baik kita semua.

Saya sangat menyukai kota ini meskipun sebagian dari kalian tidak menyukai keberadaan saya selama disini.  Sampai jumpa dilain waktu dan kesempatan.

 

#AYDK

Selesai