Kendala Terbesar Itu Bernama Bahasa

Penulis : Yoyo, September 2017

Lijiang City, Yunnan Province

“Pada dasarnya semua manusia itu mempunyai peluang sukses yang sama, yang membedakan dari mereka adalah tidak berani mencoba dan takut menghadapi kegagalan”

Pagi sudah datang, dari jendela kamar tampak matahari mulai menampakkan sinarnya, tetapi cuaca yang dingin tetap saja membuat saya tidak ingin mematikan pemanas ruangan yang ada di kamar saya, maklum di China bagian ini apapun musimnya selalu saja tetap dingin karena kebetulan tempat tinggal saya tidak jauh dengan gunung salju yang terkenal dengan nama Jade Snown Mountain Dragon. Melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08,30 itu tanda nya saya harus bersiap pulang, tiket sudah disiapkan beberapa hari yang lalu untuk saya kembali ke Tanah Air.

Tak terasa hampir satu musim kompetisi telah berlalu, waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulannya saya lewati dengan rasa yang sangat sepi, seperti berpuasa bahasa indonesia selama berbulan-bulan, karena tidak satupun dari semua yang berada di club yang bekerja disini yang dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris (apalagi bahasa Indonesia) setelah rekan saya satu-satunya yang lumayan fasih berbahasa inggris yaitu cherish harus diberhentikan karena satu dan lain hal setelah 1 bulan saya berada disini.

Bahasa adalah satu dari kendala saya selain tentunya agama dan makanan (halal atau tidak), sejak menginjakkan kaki disini saya tahu bahwa saya akan dihadapkan dengan beberapa hal tersebut, akan tetapi seorang profesional sejati adalah bagaimana bisa beradaptasi dengan masalah yang ada, meskipun tentunya pasti ada konflik pribadi yang akan terjadi.

Terlalu berlebihan mungkin bahwa saya selalu mempermasalahkan bahasa, tapi memang demikian adanya, tanpa menyerah dan pasrah dengan keadaan, hal pertama yang saya lakukan adalah mengajarkan pemain saya untuk berbicara bahasa inggris, sebelum memulainya saya banyak memberikan pandangan ke mereka, salah satunya ialah jika mereka ingin bermain sepakbola di Eropa mereka harus bisa berbahasa inggris, akhirnya kesepakatan antara kami (saya dan semua pemain) pun berjalan, yaitu 20 menit sebelum latihan dimulai kami sepakat untuk belajar 10 kata perhari, english-mandarin dan sebaliknya, karena saya pun harus belajar agar mereka lebih menghargai saya.

Tak lama berselang setelah 2 bulan saya berada disini akhirnya club menyediakan translator yang berasal dari mahasiswi, meskipun tidak setiap hari berada di club setidaknya saya merasa sangat terbantu dalam setiap sesi latihan, tetapi karena kendala waktu dan hal lainnya setiap tim kami bertanding keluar kota translator itu pun tidak pernah bisa pergi bersama kami.

Dan sudah bisa anda sekalian bayangkan apa yang seorang pelatih lakukan ketika ingin memberikan taktik dan motivasi bagi pemainnya tetapi tidak bisa menyampaikan karena terkendala bahasa. Saya sangat kagum dan tidak dapat membayangkan kemampuan Pak BJ Habibi pada masanya yang dapat menguasai banyak bahasa setelah saya menghadapi keadaan yang kurang lebih sama seperti beliau ini, ucap saya dalam hati.

Pada akhirnya saya mendapatkan salah satu solusi terbaik saat itu, yaitu berbicara dengan asisten saya mengenai apa yang akan saya sampaikan kepada pemain, dan itupun saya harus menyampaikannya lewat aplikasi wechat yang kemudian diterjemahkan dan dicatat kata demi kata apa yang saya sampaikan ke dalam bahasa mandarin, lalu paginya sebelum bertanding dia sampaikan kepada seluruh pemain apa yang saya inginkan, pertandingan demi pertandingan saya lalui dengan cara yang sama karena saya tidak mempunyai pilihan yang lebih baik pada saat itu, dan ternyata semua hal tersebut belum cukup bagi saya untuk memberikan yang terbaik kepada tim.

Awalnya saya pikir semuanya akan berjalan dengan mudah. Tinggal menggunakan bahasa inggris karena saya kira bahasa sepakbola dimanapun sama saja dan mudah, selesai perkara. Tetapi pada kenyataannya tidak semudah yang terpikir di benak saya. Butuh belajar bahasa mereka yang lama agar semua yang saya sampaikan dimengerti oleh mereka dan tentunya segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.

Bekerja sebagai orang asing dan di dunia sepakbola yang bisa dibilang sudah profesional ini memang sangat berat, selain bahasa, banyak tekanan yang cukup menantang buat anak muda seperti saya dan juga tentunya akan menjadi pengalaman yang berharga buat saya pribadi.

Salah satunya yang saya masih sangat ingat adalah ketika pertandingan melawan tim yang sama-sama berasal dari satu provinsi, saat itu kami bermain di Provinsi Hubei tepatnya kota Xiaogan, tanpa saya ketahui sebelumya boss besar datang menempuh 3 jam perjalanan pesawat menuju lokasi pertandingan hanya untuk menyaksikan pertandingan tersebut.

Pada saat jeda babak pertama ketika saya memberikan instruksi kepada pemain di ruang ganti, saya terkejut beliau tetiba datang dan meminta untuk berbicara kepada seluruh pemain dengan nada yang cukup marah saya kira karena kami tertinggal 2-0, lalu diakhir pertandingan dan dengan skor pun bertambah menjadi 3-0, beliau pun langsung pergi tanpa basa-basi.

Itu adalah satu dari banyaknya tekanan yang saya alami, dan tidak akan dapat saya lupakan dalam karir saya.

Boleh saja orang menilai saya sebagai seorang yang lemah karena sulit beradaptasi dengan berbagai kendala dan tidak kuat dengan tekanan yang ada, tetapi satu hal yang pasti, saya sudah melakukan yang terbaik semampu saya, karena saya bukan orang yang mudah menyerah.

Meskipun pada akhirnya saya memang harus menerima kenyataan, bahwa tidak ada satu raihan apapun yang saya berikan untuk tim ini. Dan oleh karena itu seperti yang pernah saya katakan pada artikel saya ketika pertama kalinya menginjakkan kaki disini, maka di akhir artikel ini saya menyatakan bahwa

” Saya Gagal dan Kendala Terbesar Itu Bernama Bahasa”

Melalui tulisan ini, maka secara resmi saya menyatakan bahwa management mengakhiri kerjasama dengan saya. “Wellcome To The World of Football” dimana kemenangan adalah nomor utama tanpa alasan apapun.

Akhir sekali saya mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada keluarga dan sahabat-sahabat sekalian yang selama ini selalu mendukung saya. Dan untuk anda sekalian yang menunggu kegagalan saya, saat ini anda menang, maka berbahagialah.

“Bagi saya pribadi ini adalah pengalaman yang bagus yang datang dalam awal karir saya, mengapa demikian? Karena saya gagal disaat pertama kali saya menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam tim, dan saya percaya saya akan menjadi lebih baik lagi, karena ini adalah proses pembelajaran yang luar biasa yang tidak ternilai dengan apapun”

SELESAI