Mantan Pemain Atau Bukan, Siapa Paling Bagus?

Penulis : Yoyo, 16 Maret 2017

Luxi, Yunnan Province

Gelaran Piala Presiden 2017 telah usai, dimana AREMA Malang keluar sebagai yang terbaik dalam gelaran yang baru diadakan kedua kalinya tersebut, saya hanya bisa menyaksikannya lewat streaming. Selang beberapa hari kemudian saya sempat membaca sebuah link berita yang menurut saya tidak begitu penting. Saya menerima link tersebut dari salah seorang sahabat saya melalui pesan pribadi whats app. Berita terkait utamanya mengenai kualitas antara mantan pemain sepakbola profesional yang menjadi pelatih atau yang bukan mantan pemain sepakbola profesional yang mencoba berusaha menjadi pelatih.

Mengapa muncul asumsi tersebut, karena lawan AREMA Malang pada partai final di Piala Presiden tersebut adalah Borneo FC, yang ternyata pelatih kepalanya adalah Ricky Nelson dan karena pencapaiannya banyak orang kagum karena beliau bukan berasal dari mantan pemain sepakbola profesional dan bisa sukses menembus final sehingga tidak sedikit orang yang mulai mengatakan bermacam-macam tanggapan positif tentang  pelatih yang bukan berasal dari mantan pemain profesional.

Padahal sebelumnya banyak dari sebagian mantan pemain sepakbola profesional yang menjadi pelatih ada yang memandang bahwa pelatih yang berasal bukan dari mantan pesepakbola profesional begini “Dia (bukan mantan pemain sepakbola profesional) ga ada apa-apanya, nendang bola aja ga bisa bagaimana mau jadi pelatih, dia cuma bisa IT aja dan cuma bisa bahasa inggris, cuma menang teori “, lalu ada juga yang berkata begini ” Waktu saya main dulu ga ada yang bisa lewat sama saya, saya jadi bintang terus dulu, kamu harus lebih baik dong dari saya ” ucapnya kepada pemain-pemainnya. Perkataan semacamnya tidak jarang saya dengar dan jelas tidak bijaksana.

Dan dari beberapa pendapat pelatih yang bukan mantan pemain sepakbola profesional berkata ” Dia (Mantan Pemain Sepakbola Profesional) ga pinter, gaya mainnya sederhana banget karena bagus aja pendekatan ke pemainnya, makanya juara ya pemainnya bagus-bagus semua. Gampang banget ngelatihnya ” Komentar lainnya yaitu ” Wajar aja dia gampang jadi pelatih kepala, mantan pemain TOP, tapi gagal mulu tim nya, ya ga pernah update sih ga mau belajar, untuk menggunakan IT aja ga bisa, ketinggalan jaman banget, ga modern“. Saya rasa tidak juga harus berbicara demikian karena mereka juga sebelumnya susah payah untuk menjadi pemain profesional sehingga menjadi terkenal.

Loh, lalu??? Siapa yang paling bagus???

Sebelum kita membahas hal ini lebih jauh lagi, mari kita sepakati bersama, jika kita semua bukanlah termasuk dari golongan orang-orang pembenci. Karena para pembenci, tidak akan pernah mampu memberikan sebuah penilaian yang fair dan netral terhadap suatu hal.

Saya ingin menjelaskan bahwa siapapun yang menjadi pelatih saya rasa sama-sama mempunyai mempunyai kemauan yang besar untuk belajar agar tim nya lebih baik, mengapa saya berkata demikian?

Karena tidak semua mantan pemain sepakbola profesional yang menjadi pelatih selalu gagal membawa timnya juara, di Eropa kita bisa melihat Pep Guardiola yang berhasil membawa Barcelona juara berkali-kali, lalu baru saja kita menyaksikan final liga champion beberapa waktu lalu, Zinedine Zidane berhasil membawa Real Madrid menjuarai Liga Spanyol dan Liga Champion, kita semua tahu bahwa keduanya adalah mantan pemain sepakbola top .

Apa mungkin pelatih-pelatih tersebut tidak belajar dan hanya mengandalkan pengalaman bahwa mereka mantan pemain profesional, saya rasa tidak. Pasti mereka mempunyai kemauan yang keras juga dalam hal belajar sehingga bisa membawa timnya juara selain pengalaman yang mereka punya sebagai pemain sepakbola, hanya saja mungkin kita tidak mengetahuinya, salah satu contoh yang sebagian orang tidak tahu adalah bagaimana usaha Zinedine Zidan yang harus menunggu untuk dapat magang di tim karena sebagai salah satu syarat untuk lisensi kepelatihannya.

Lalu kalau kita melihat pelatih lain yang bukan mantan pesepakbola profesional di liga-liga eropa seperti Arsene Wenger, Jose Mourinho, Andre Villas Boas, Arrigo Sachi yang kita semua sudah tahu prestasi luar biasa yang mereka torehkan selama berkarir.

Di Indonesia kita bisa melihat Ricky Nelson yang sudah sama-sama kita bahas diawal tadi, padahal sebelumnya hanya melatih di SSB, selain itu ada Rudy Eka Priyambada yang juga salah satu pelatih yang bagus dimata saya, beliau pernah menjadi pelatih di Liga Bahrain, dan sekaligus menjadi pelatih Indonesia pertama yang bisa melatih diluar negeri, hal yang sangat membanggakan menurut saya pribadi karena begitu sulitnya sebagai orang Indonesia yang sepakbolanya jauh dari kata bagus untuk mendapat kesempatan melatih diluar negeri, dan sebelum ke dunia profesional beliau mengawali karirnya hanya sebagai pelatih di sekolah-sekolah International di Jakarta.

Mengenai kisah-kisah keberhasilan pelatih-pelatih tersebut juga apakah kita terus-terusan dengan sombongnya berkata bahwa pelatih yang mantan pemain sepakbola profesional hanya bisa mengandalkan pengalamannya dan tidak belajar ilmu kepelatihan yang modern?

Dan apakah kita semua masih menganggap bahwa pelatih yang bukan mantan pemain sepakbola profesional tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menang teori dan bisa bahasa inggris saja?

Saya rasa anda sekalian sudah tahu jawabannya, dan juga tidak perlu menjadi perdebatan lagi diantara si mantan ataupun bukan, selain kita ingin berkarir dan berprestasi sebagai pelatih untuk diri sendiri, kita semua tentunya ingin membawa sepakbola negeri ini ke arah lebih baik dan berkembang tanpa harus menjatuhkan.

Meskipun pada kenyataannya bahwa saya sendiri adalah pelatih yang bukan berasal dari pemain profesional dan sering mendapat anggapan remeh dari banyak orang dan pada faktanya juga bahwa pelatih dari kalangan orang biasa memang masih sangat jarang mendapat kesempatan di Tanah Air kita tercinta ini.

Tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan sama sekali untuk saya menyerah dan selalu menyalahi keadaan, saya sangat percaya bahwa selagi kita punya kemauan yang besar untuk belajar, siapapun mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa menjadi yang terbaik dan bisa merubah secara perlahan sepakbola kita yang ternyata tanpa disadari masih begini-begini saja.

Oleh karena itu,mari kita membuang jauh perdebatan yang tidak ada gunanya dan tidak menjadikan kita lebih baik, tentunya kita semua harus saling menghargai, dan menjadi pelatih lokal yang bisa bersaing, tidak pernah cepat puas dengan ilmu yang ada, berkelakuan baik, dan juga bisa secara perlahan memberikan kesan dan bukti positif bahwa pelatih lokal lebih baik daripada pelatih asing.

“Bekerja dan berprestasilah kamu setinggi-tingginya, tanpa harus menjatuhkan orang lain”

 

SELESAI…