Melatih Diluar Negeri Bukan Sekedar Mimpi

Penulis : Yoyo, 28 Februari 2017

Lijiang City, Yunnan Province

Cuaca dingin cukup menusuk tubuh didalam pesawat yang saya tumpangi dari Senzhen menuju Lijiang, entah karena air conditioner pesawat yang terlalu dingin ataupun karena cuaca diluar pesawat yang memaksa saya memakai jaket tebal yang sudah saya siapkan. Tak lama setelah itu, tepat pukul 20.00 waktu setempat saya tiba di Bandara Sanyi International Airport, Lijiang.

Saya sendiri tidak pernah mendengarnya selama ini, kota yang disebut banyak orang yaitu salah satu warisan dunia UNESCO yang posisinya berada di China barat daya. Eksotisme kota tua di tiongkok ini dengan atap bangunan khas China ditambah alunan musiknya seperti membawa saya ke zaman dinasti kuno yang sebelumnya hanya bisa saya saksikan di televisi dan membuat saya seperti dalam mimpi, Kota yang dikenal dengan gunung saljunya ini sangat dingin, terbayang pertama kali saya merasakan cuaca dingin yaitu sekitar 3 derajat celcius yang membuat tubuh saya menggigil luar biasa.

Tak lama berselang sambil berjalan menuju pengambilan bagasi, tetiba saya melihat seseorang petugas bandara memegang kertas dengan bertulisan (yoyo) nama saya . Tanpa basa-basi lagi selain memang saya sama sekali tidak bisa berbahasa mandarin saya langsung menghampirinya, lagipula mana mungkin ada nama yang sama dengan saya disini, canda saya dalam hati.

“Ni Hao (Hallo) i’m Yoyo” terasa sombong sekali saya, padahal hanya itu bahasa mandarin yang saya bisa, dengan wajah gugup tanpa menjawab sepatah katapun lelaki yang berperawakan kurus dan tinggi tersebut lalu mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menulis dalam handphone nya yang diterjemahkan dalam bahasa inggris yang artinya bahwa saya sudah ditunggu sekitar 1 jam lalu oleh beberapa orang dari club tempat saya akan bekerja.

Setelah sampai di ruang tunggu dan berkenalan dengan beberapa orang yang semuanya berkulit putih dan matanya sangat sipit, kami pun langsung beranjak menuju tempat tinggal yang sudah disiapkan untuk saya, beruntung sekali satu orang dari mereka bisa menggunakan bahasa inggris meskipun tidak begitu lancar yang dikemudian hari saya kenal dengan nama Cherish.

Tak lama kemudian sesampainya kami di club, Cherish mengantarkan ke rumah yang saya lihat ada sekitar 15 rumah berdekatan yang semua bahan bangunannya terbuat dari kayu, Setelah membuka pintu ia pun mempersilahkan saya untuk masuk.

Sebelum pamit dia berkata kepada saya”All these home for coaches and players (from out of town), and this one for you, (sambil memberikan saya kunci kamar) Welcome to China, hope your enjoy work in here, this is the first time the club employe coach from overseas for our academy, because our boss want to our club better and be the best, and for young coach like you i hope you strong work in here“, okay i am understand, thank you cherish and have a good night, jawab saya tanpa panjang lebar.

Setelah dia pergi dan saya masih berdiri di depan pintu karena masih menggelayuti pikiran saya apa yang dikatakannya tadi, saya berkata dalam hati “Saya paham sekali tidak ada yang mudah sebagai pelatih apalagi melatih di Negara orang, mereka begitu punya harapan besar, saya akan lakukan yang terbaik semampu saya, entah gagal atau berhasil kedepannya saya tidak peduli, karena hal yang paling terbaik buat saya adalah mencoba dan berusaha, saya tak perlu takut, ah sudahlah.. ”

Kemudian saya pun segera memasuki kamar dan langsung merebahkan badan sambil menengadah. Tatapan saya jauh menerawang menembus plafon kamar yang semuanya terbuat dari kayu jati.

“Muke Gile, bocah betawi bisa begini, ngimpi kaga sih ni gue. dulu gue cuma kepikiran pengen banget main bola keluar negeri, yang pada akhirnya mimpi itu gue kubur dalam-dalam, dan sekarang gue jadi pelatih kepala di luar negeri, China lagi yang sepakbola nya lagi boros-borosnya belanja pemain TOP kayak teves, Hulk, Oscar, Lavezzi dan juga pelatih-pelatih TOP macam Marcelo Lippi, Fabio Cannavaro, Luiz Felipe Scolari dan juga Andre Villas Boas, sedangkan gue siapa, berasal dari Negara yang sepakbolanya masih jauh tertinggal”

Ah apa yang mesti ditakutkan apalagi minder, saya juga kan pelatih TOP, saya mendapatkan lisensi kepelatihan hingga B AFC di dua negara berbeda, saya menjadi salah satu pelatih dengan nilai terbaik diantara peserta B AFC License lainnya dan juga peserta paling muda apalagi sekarang saya diminati oleh club dari China, ya meskipun belum mempunyai prestasi apa-apa, setidaknya pelatih muda seperti saya adalah seperti mimpi bisa melatih diluar negeri, sambil senyum dan tertawa dalam hati,

Dapat ditebak, malam itu saya habiskan dengan begadang. Saya tidak sabar rasanya menunggu pagi datang menjelang, agar segera dapat melihat-lihat suasana sekitar dan berkenalan dengan pemain-pemain serta para pelatih yang bekerja disini.

Rasa tidak percaya masih terpikir dalam benak saya. Ingin rasanya segera memulai petualangan di Negeri tirai bambu ini. Penasaran juga dengan apa yang bisa saya berikan kepada tim yang saya sendiri tidak tahu harus memulai darimana karena kendala bahasa yang pasti akan menjadi masalah utama bagi saya. Tak terasa kantuk pun datang dan saya pun tidur dengan lelap karena begitu lelah dalam perjalanan yang ditempuh kurang lebih 9 jam dari Jakarta.

Apa yang saya sampaikan diatas adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di China, tepatnya di kota Lijiang. Sebuah cerita yang tidak pernah saya lupakan dalam hidup saya.

Ternyata melatih diluar negeri bukan hanya sekedar mimpi bagi saya seorang anak betawi yang sering orang bilang cuma bisa ngabisin warisan babeh dan hanya betah di wilayahnya sendiri.

Saya teringat sekali perkataan orang tua saya yang selalu bilang kepada saya sejak kecil yaitu “Tuntutlah Ilmu Sampai Negeri China” kata-kata tersebut membuat mata saya berkaca-kaca saat ini, mudah-mudahan mereka bangga kepada saya, meskipun saya tidak berhasil mewujudkan impian besar seorang ayah yang ingin sekali bisa melihat anaknya menjadi pemain sepakbola profesional dan bermain membela Negara, dan gagal membuat seorang ibu bahagia melihat anaknya menjadi seorang guru.

Tetapi setidaknya saya sudah melakukan hal yang terbaik setelah saya gagal, kegagalan tersebut semakin menjadikan saya pribadi yang sangat kuat untuk selalu berusaha bangkit kembali dan berusaha membuat mereka tersenyum.

Dan akhir sekali saya katakan bahwa kebahagiaan terbesar bukan terletak pada kenyataan saya bisa melatih diluar Negeri, melainkan pada kenyataan bahwa saya akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan tidak ternilai harganya.

Saya tidak bisa bercerita mengenai apa yang terjadi setelah malam itu, bagaimana petualangan saya, dan apa saja kendala saya, apakah saya gagal atau tidak. Karena anda sekalian bisa membaca artikel-artikel saya selanjutnya.

SELESAI