Sepakbola Usia Muda Kita

Penulis : Yoyo, 28 April 2017

Indonesia buat saya adalah  gudangnya pemain berbakat, cepat, pekerja keras, hal tersebut juga diiyakan oleh rekan saya ketika mengikuti kursus kepelatihan AFC C License di Brunei pada saat itu, salah satu rekan saya cakap “Negara kamu tidak jauh berbeda seperti jepun (Baca Jepang), sangat cepat, fight dan juga mempunyai postur tubuh yang sama, berbeda dengan negara saya yang tidak banyak pemain sepakbola berbakat seperti di Negara kamu”.

Lalu saya terdiam sejenak, hhmm benar juga apa dia bilang ya, tapi ko kita jarang menang di level Asia Tenggara saja? Celoteh saya dalam hati, lalu saya mencoba mencari-cari dimana letak kesalahan yang kita buat.

Kurang lebih 6 tahun saya berada di dunia Sekolah Sepakbola sebelum memulai jenjang karir kepelatihan saya di profesional, setiap hari saya harus menghadapi orang tua yang komentar pedas bahwa anaknya tidak dimainkan, padahal mereka tahu bahwa si anak datang latihan hanya seminggu sekali, selalu menanyakan kapan kompetisi, kapan main liga ini, liga itu tetapi tidak pernah menanyakan dan menyuruh anaknya untuk giat latihan, ketika SSB nya jarang ikut turnamen lalu pindah ke SSB lain yang setiap minggu turnamen.

Melihat pemain yang jarang latihan tetapi setiap pertandingan selalu nongol, apabila tidak dimainkan seminggu kemudian pindah ke SSB lain, lalu bersikeras ikut seleksi  untuk tim daerah, provinsi , tim Nasional dan semacamnya, ketika gagal dan dicoret si pemain dan orang tuanya posting di media social menulis bahwa ada KKN, ada titipan, seleksinya ga bagus, pelatihnya ga bagus. Tetapi tidak pernah mengakui anaknya banyak kekurangan dan tidak menyuruh untuk lebih kerja keras dan lebih giat latihan.

Tidak sedikit SSB mengumpulkan pemain untuk sebuah liga bergengsi, tak peduli si pemain bisa datang atau tidak dalam latihan karena terpenting adalah datang saat tim main, saling mencari nama bahwa SSB saya lebih bagus daripda SSB A, SSB B dan lainnya, semata-mata hanya untuk popularitas yang memaksakan.

Dan tidak jarang saya mendengar dan melihat rekan-rekan pelatih selalu ego membawa nama baik SSB nya untuk menang, dengan membawa piala juara pulang lalu di posting di media social seolah-olah dia baru saja memenangkan dan membawa Indonesia juara ASEAN. Tidak pernah mengajarkan dan memberikan ruang untuk pemain berbuat kesalahan dalam pertandingan, lalu esok diperbaiki ketika latihan.

Dan sudah sangat banyak pula yang dengan gampangnya memakai logo garuda didada untuk bermain diluar negeri memakai uang sendiri seolah-olah mereka bermain untuk Tim Nasional,  lalu mereka Juara dan mengklaim bahwa kami telah mengharumkan nama bangsa. What??? Tetapi apakah hal tersebut salah? Saya tidak mengatakan Iya, kenapa? Karena mereka punya uang dan mampu, lalu dimana salahnya? Saya jawab dengan tegas ialah kepuasan dan cepat besar kepala dari mereka, kenapa saya berkata demikian, karena sudah banyak sekali dari mereka setelah mereka Juara dan katanya membawa nama baik bangsa seakan-akan mereka sudah paling jago, betapa tidak?

Mereka bisa mengalahkan Prancis, Italia dan negara-negara TOP lainnya dengan skor diatas 4-0 yang senior tim Nasional ASLI kita saja belum tentu menang apalagi menang dengan skor meyakinkan, tetapi kenyataanya itu hanya Sekolah sepakbola atau kumpulan-kumpulan tim sepakbola hura-hura disana, bukan akademi terbaik.

Dengan semua hal tersebut seperti apa yang saya katakan tadi yaitu membuat topi di kepala mereka sudah tidak muat, mereka sudah malas latihan, sudah tidak ada gairah untuk menjadi seorang juara, juara di usia muda cukup bagi mereka meyakinkan rekan-rekan dan orang tua mereka bahwa mereka yang terbaik. Padahal tujuan sesungguhnya adalah Juara di masa depan.

Saya sangat setuju apa yang pernah kolega saya katakan dalam salah satu statusnya di media sosialnya yaitu “ Pesepakbola muda GAGAL karena terjebak pada masa lalu, pernah main di negara ini di negara itu, juara ini, juara itu, timnas usia ini timnas usia itu, sehingga membuat mereka cepat puas “

Ehemm… Lalu kapan sepakbola kita bisa juara di AFF?? Jangan bicara Piala Asia apalagi Piala Dunia, kompetisi yang didakan setiap 2 tahunan tersebut yang khusus negara ASEAN saja kita tidak pernah bisa menjuarainya sejak dimulai pada tahun 1996 tersebut yang pada sebelumnya bernama piala Tiger.

Apa kita semua peduli, apa semua pelatih, semua SSB sudah memberikan ruang untuk pemain melakukan kesalahan agar semakin baik dan tambah baik dari kesalahan yang dibuat, dilatih bukan untuk juara di usia muda melainkan juara di masa depan.

Apakah semua orang tua sudah jujur mengakui bahwa anaknya kurang bagus, dan harus lebih giat dan serius dalam latihan. Sudahkah memberikan kesempatan agar mereka bermain bukan seperti play station yang selalu berada 5 meter dari garis lapangan dan berteriak-teriak keras yang mengganggu konsentrasi mereka. Apakah orang tua mau percaya dan sabar mengikuti proses tersebut?

Kita tentu tidak mau lagi terjerembab kelubang yang sama dan melihat sepakbola kita begini begini saja.

Akhir sekali saya atau kita tentunya pasti punya keyakinan yang begitu besar bahwa pelatih usia muda dan semua SSB di Indonesia bisa merubah pola pikir sehingga mampu mencetak pemain yang lebih baik dari yang ada sekarang agar TimNasional kita Juara di level Asia bahkan dunia.

Dan saya sangat yakin orang tua di Indonesia mampu merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya untuk mengikuti proses demi prosesnya.

INDONESIA KITA HARUS JUARA, PEMAIN MUDA KITA HARUS JUARA DI MASA DEPAN !!!

SELESAI…